Jumat, 17 Maret 2017

Minimalisir Permasalahan, Babinsa Pantau Pembuatan Ogoh-ogoh

Pendam IX/Udayana
Jumat, 17 Maret 2017

Menjelang perayaan Nyepi Tahun Caka 1939, Babinsa jajaran Kodim 1616/Gianyar terus memantau pembuatan Ogoh-ogoh yang ada di Desa binaanya sebagai bahan pendataan untuk mengetahui jumlah maupun opini warga, Jumat (17/3).

Perayaan Tahun baru Saka atau Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peranan sebagai simbol atau visualisasi prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta atau alam. Perancangan yang diwujudkan dengan Bhutakala ini dalam wujud menyeramkan dan diyakini jika kekuatan alam yang berlebihan akan menjadi kekuatan merusak dan menyeramkan.

Tradisi pembuatan ogoh-ogoh, simbol penetralisir kekuatan negatif di Bali ini, jika dikalkulasi biayanya sangat tinggi. Jumlah banjar di Bali lebih 5.000, nyaris semua membuat ogoh-ogoh. Bahkan kini ditambah kelompok ormas, klan, dan lain-lain.
Ini merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap tahun. Ribuan ogoh-ogoh, berwujud raksasa diarak sehari sebelum Nyepi. Dari segi biaya, tiap banjar dapat mengeluarkan biaya Rp10 juta lebih, sementara jika bahan yang digunakan tanpa gabus menjadi Rp7 jutaan.

Pembuatan Ogoh-ogoh juga perlu diatensi dan dipantau agar dapat diminimalisir bila terjadi permasalahan, hal ini yang menjadikan bahan koordinasi Babinsa kepada koordinator pembuatan Ogoh-ogoh di Wilayah binaanya. (Penrem 163/Wira Satya)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar